GOLDIANE

Aku meraih buku karya Liane Moriarty yang berjudul What Alice Forgot, lalu duduk di kursi paling pojok. Membaca membuatku lupa apa masalahku, keheningan membuatku tenang, sampai… “Bisa bantuin gue cari buku ensiklopedia sains nggak?, cepetan disuruh pak Johan. Aku hanya bengong melihat tampangnya. “Elah malah bengong, cepetan.” Itu cowok tadi, yang membantuku berdiri.

Advertisements

Mahalnya Pendidikan Anak (Kecil)

Tahun ajaran baru, musim orangtua sibuk mencarikan anaknya sekolah. Mulai dari yang masuk Taman Kanak-kanak (TK) sampai masuk Perguruan Tinggi (PT). Namun dari sekian banyak kesibukan pendaftaran siswa baru, yang paling menarik adalah masalah biaya sekolah yang tidak bisa dibilang murah untuk sekolah setingkat TK. Meskipun mungkin ini juga relatif tergantung pada jenis sekolah dan … Continue reading Mahalnya Pendidikan Anak (Kecil)

I’ll Be With You (18) – End

“Take care ya Ren… Cuma ini yang bisa mas lakukan buat kalian. Mas tidak akan ganggu kalian. I promise. Jika ini bisa membuat kalian bahagia, mas ikhlas. Lanjutkan kisah kalian yang pernah terputus itu. I think I’m not the one who will make you happy… As long as you happy, I will be alright.  I just wanna see you happy Ren. Nothing else…”

I’ll Be With You (17)

Di sebuah Executive Lounge, aku dan mas Dito janjian bertemu. Cahaya matahari sore mencoba menyengat dengan sisa-sisa cahayanya. Angin sudah tak segarang siang. Daun-daun menari pelan mengikuti awan meski tak sejalan. Bayangan semakin memanjang tanpa pernah menjadi kelam. Jantungku berdebar-debar karena takut tatkala melihat mas Dito sudah ada di Lounge terlebih dahulu. Tetapi untunglah ia … Continue reading I’ll Be With You (17)

I’ll Be With You (15)

Pandhu mengarahkan pandangannya ke arah jendela. Berusaha menyatukan kepingan-kepingan cerita hidupnya. Tidak mudah mengetahui bahwa kisah hidupnya sekarang menjadi sedikit lebih rumit. Seperti mengalami sebuah lompatan waktu. Dengan pengetahuan seorang remaja, dia harus menghadapi dunia dewasanya yang sangat berbeda.

I’ll Be With You (14)

Lagi enak-enaknya duduk menunggu,  seorang pria melintas didepanku. Aku terkesiap. Aku seperti melihat Pandhu. Perawakannya dan cara berpakaiannya mirip banget dengan Pandhu. Sekian detik aku pandangi pria itu untuk menyakinkan aku jika itu bukan Pandhu. Seketika itu pula aku teringat kalau aku punya janji cerita kepada Pandhu tentang apa yang terjadi padanya.

Create your website at WordPress.com
Get started