GOLDIANE

goldiane-gold

If it worth, its goldiane. And every person has a goldiane in their life.

“Waktu istirahat telah selesai, para murid silahkan kembali ke kelas masing-masing…” Suara bel tanda istirahat selesai menggelegar di seluruh penjuru SMP Sejin.

Aku hanya melihat jam dinding perpustakaan, lalu mendengus. Ya, memang setiap hari ku habiskan waktu istirahatku di perpustakaan. Aku sampai lupa, kapan terkahir kali aku berbicara di depan seseorang. Ya, aku pendiam dan sangat rendah percaya diri. Seseorang tiba-tiba memanggilku, “Kamu dipanggil bu Ony di ruangannya, katanya segera.” Ganteng… tapi aku.. ngga suka. Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai tanda mengerti lalu bergegas pergi.

***

“Salya? Maaf saya mendadak memanggil. SMP Sejin akan mengirimkan seorang murid untuk studi banding di SMP Goldiane.”

Mendengar perkataan bu Ony, aku langsung mendongak, merasa curiga.

“Berdasarkan pantauan dari tim guru, kami memilih kamu menjadi duta dari SMP Sejin. Pemilihan ini didasarkan pada nilai kamu yang cukup baik, dan kebetulan kakak kelas kamu selama setahun ini sudah padat. Jadi, tolong persiapkan diri secepatnya. Kamu bersedia kan?”

Aku menggeleng gelengkan kepalaku sebagai tanda penolakan.

“Nggak, kamu harus bisa belajar yakin pada diri kamu sendiri, ibu yakin kamu mampu, Salya.” Sambil menatapku penuh harap beberapa detik, bu Ony melenggang pergi ke luar ruangan.

Apa pilihanku sekarang, selain menerima permintaan bu Ony?

Aku juga tidak terlalu sedih, toh siapa yang akan sedih ditinggal olehku?

***

Aku tidak berpikir untuk bersiap-siap, hanya perlu membawa tas dan peralatan sekolah lainnya seperti berangkat sekolah biasa. Seperti pagi biasanya, aku berpamitan dengan ayah. Dan seperti biasa, ayah pasti masih tidur di ruang tamu karena begadang nonton televisi semalam.

Rumah kami tidak lagi pernah berwarna cerah, ya, semenjak ibu meninggal. Jika ditanya siapa orang paling kehilangan, itu ayahku. Sudah sekitar 3 bulan beliau tidak mengajakku bicara, beliau menganggapku anak pembawa sial. Aku pasti sedih jika berpikir tentang itu, aku pun sedih bahwa kenyataannya bukan hanya ayah yang paling kehilangan, disini anaknya menangis tiap malam mengingat ibunya.

***

Tidak perlu berlama-lama, aku sudah sampai di SMP Goldiane.

Gedungnya besar, luas, itu kesan pertamaku di SMP Goldiane. Aku langsung berpikir tentang perpustakaan di sekolah ini.

Sangat ramai, rusuh, itu kesan pertamaku di kelas ini. Setelah diantar guru untuk berkeliling sekolah, aku memasuki kelas rusuh tadi. Aku tidak berminat untuk memperkenalkan diri, jadi aku  membiarkan guru memperkenalkanku, dan mempersilahkanku duduk. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, banyak sekali tatapan remeh terhadapku. Jam pelajaran berkahir membosankan, dan penuh catatan di buku tulis.

Aku berdiri untuk keluar kelas dan mencari perpustakaan, dan…brukk! Seseorang menjulurkan kakinya untuk menjegalku, alhasil aku jatuh.

“Woi bangun.” Seorang laki-laki membantuku berdiri. Aku langsung berjalan cepat melewati kerumunan orang dan menuju perpustakaan.

what alice forgot

Aku meraih buku karya Liane Moriarty yang berjudul What Alice Forgot, lalu duduk di kursi paling pojok. Membaca membuatku lupa apa masalahku, keheningan membuatku tenang, sampai… “Bisa bantuin gue cari buku ensiklopedia sains nggak?, cepetan disuruh pak Johan. Aku hanya bengong melihat tampangnya. “Elah malah bengong, cepetan.” Itu cowok tadi, yang membantuku berdiri.

Aku menyusuri katalog berdasar huruf lalu mencari ensi…, nah ketemu! Kuberikan buku ini pada cowok itu yang kuketahui bernama Rafa karena melihat name tag-nya. “Lo bisu? Atau nggak tau cara ngomong?, makasih bukunya!” lalu melenggang pergi meninggalkan perpustakaan.

Bel masuk kelas sudah berbunyi beberapa detik lalu, segeralah aku untuk kembali menuju kelas. Sabar, 2 jam lagi, aku ingin bertemu dengan Barney si pemberi free hugs di panti itu. Barney sudah menjadi satu-satunya temanku, dia selalu memakai topeng boneka agar tidak dieketahui orang, aku juga tidak mamaksanya untuk memberitahukan identitasnya padaku, karna menurutku tidak penting, yang penting dia satu-satunya yang selalu menjadi pendengar dari semua ceritaku.

Baru saja aku hendak duduk, aku melihat kursiku sudah ditaburi banyak tepung. Beberapa detik kemudian, “Lihat apa kamu Salya? Segera duduk.” Bu Lisa guru Sains yang sudah memerintahku tidak bisa kusangkal lagi, aku memutuskan duduk di atas tepung putih.

***

“Perpustakaannya bagus, aku suka.” Aku mengatakan ini kepada Barney, untuk sekedar memberitahu.

Memang Barney tidak pernah mengeluarkan suara, karena dia hanya si kepala boneka yang setia mendegarku. Setiap pukul 3 sore, dia selalu pergi ke panti anak untuk menjadi pemberi free hugs sekedar untuk menghangatkan hati anak-anak yang rindu pelukan, begitu juga denganku.

“Tapi,…” belum selesai aku melanjutkan perkataanku, Barney meletakkan telunjuknya di bibirku, lalu menggelengkan kepala, dan berlari entah mau kemana.

Setelah aku menunggu beberapa menit, Barney kembali membawa gantungan tas berbentuk tengkorak khas kartun. Aku berdiri dan langsung memeluk Barney. Sekian detik aku menyadari bahwa Barney adalah seseorang yang mengerti aku tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya.

***

Hari ini, aku memasak soto untuk sarapan ayah dan juga aku. Ayah paling suka makanan berkuah jadi tidak begitu susah buatku. Aku hanya bergantung pada kiriman uang dari tanteku yang ada di Kupang, jadi aku juga tidak mau membebani tanteku di sana. Aku berangkat menaiki bus yang letaknya tidak jauh dari rumahku.

Aku memasuki kelas dan langsung segera duduk di kursiku untuk membaca buku yang kutinggal di laci. Tapi saat ku meraba laciku, aku menemukan sesuatu. Sebuah kertas kecil, bertuliskan ‘I have a thousand things to say to you, and a thousand reason not to.’ Aku mengernyit saat membacanya, ini dari siapa? Dibawahnya bertuliskan lagi b.a.r, yang kuyakini nama penulis kertas ini.

paper note

“Eh lo, sana bersihin kaca tuh, keburu pak Johan kesini.” Cewek bernama  Sarah itu menyuruhku.

Karena merasa tidak punya pilihan, aku berdiri untuk melakukannya. Tapi, aku mersakan kehadiran seseorang di sampingku, aku menoleh dan menemukan Rafa di sampingku ikut membersihkan kaca.

“Rafa! Lo ngapain bantuin dia?!” teriak Sarah yang diabaikan oleh Rafa, aku hanya diam mendengarnya.

Rafa tetap melanjutkan kegiatannya membantuku membersihkan kaca, lalu tiba-tiba dia berkata tepat di sampingku “Someday, lo harus bisa ngatasin ini sendiri, lo bisa ngungkapin perasaan lo kalo lo merasa ini nggak adil.”

***

Gawattt! Aku tertidur di perpustakaan dan tidak tahu jika ini sudah melewati sekitar setengah jam bel tanda masuk berbunyi. Akhirnya yang hanya bisa kulakukan, hanya pasrah. Daripada memasuki kelas dan mendapat hukuman langsung dari guru, lebih baik aku diam di sini.

Namun, aku mendengar seseorang membuka pintu, dan aku mendengar suara derapan sepatu mendekat. “Lo kenapa nggak masuk kelas? Bolos?”

Tidak sesuai dugaanku yang mungkin Slendrina bisa menyelundup ke perpustakaan, ternyata dia adalah Rafa. Setelah dipikir-pikir Rafa jadi sering sekali menyuruhku mencarikan buku karena perintah dari pak Johan. Jadi, Rafa selalu memasuki perpustakaan setelah aku memasuki beberapa menit lalu.

Tiba-tiba Rafa menarik buku yang sedang aku baca, dan menarikku kasar keluar perpustakaan. Langsung kukibaskan tanganku sebagai tanda penolakan paksaannya tadi.

“Tinggal ikut aja ribet banget sih.” Rafa membentakku dan kembali menarikku kasar. Kami melewati tangga menuju lantai atas, sepertinya lantai paling atas.

“Udah sampe. Gue juga nggak bakal ngapa-ngapain lo. Jadi nggak usah khwatir dan liat depan bukan liatin kaki lo terus.”

Dengan gerakan pelan aku mendongak, aku terkejut saat melihat banyak gedung-gedung menjulang tinggi, jalanan yang ramai oleh kendaraan, terutama langit biru cerah yang semakin mempesonaku.

“Nggak usah makasih ke gue. Lo tau nggak apa arti Goldiane?” Kata Rafa dengan nada cueknya.

Aku menggeleng.

“Setiap orang pasti punya hal yang berharga, bahkan paling berharga. Layaknya gold emas, andaikan gue sebagai pemilik, gue memilih untuk selalu jaga dan lindungin bahaya yang bisa aja datang kapanpun.”

Sekian detik aku menyadari, bahwa Rafa memiliki hati yang hangat walaupun dia tidak ingin begitu keliatan sedang memilikinya.

***

“Barney, andai aja kalo punya temen sekelas. Bisa ngabisin waktu istirahat bareng, bercanda.”

Barney menunjuk ke arah dada nya, sebagai tanda ‘aku’.

“Iya, kamu memang temanku, tapi bukan teman sekelas. Barney, kamu bukan temanku, kamu lebih dari itu, kamu selalu denger kalo aku cerita, selalu menghiburku, menghibur anak-anak di panti, kamu penting buat aku.”

***

Kututup buku yang sudah selesai ku baca, lalu mengembalikannya sesuai tempat tadi.

“Heh! Nggak bosen apa mata lo baca tulisan mulu?”

Mendengar hentakan perkataan Rafa yang tiba-tiba, aku terkejut.

“Mending lo ikut gue sekarang.” Paksa Rafa ditambah nada cueknya.

“Gausah ganggu.” Kepalaku menunduk seraya mengatakannya.

Seperti kejadian dejavu, Rafa menarik tanganku paksa menuju kemana aku pun tidak tau. Tapi, tunggu.. aku melihat sesuatu menggantung di tas belakang rafa, sesuatu yang juga ku miliki. Bedanya milik Rafa bertuliskan Barney. Ritme degup jantungku sudah tidak bisa ku ikuti, rasa penasaran sudah dimulai.

“Barney?” tepat saat aku mengatakannya, Rafa berhenti menarikku. Perlahan dia membalikkan badanyya ke arahku, “I have a thousand things to say to you, and a thousand things not to.”

Aku tidak bodoh, aku masih ingat persis tulisan kertas kecil itu sama dengan apa yang dikatakannya sekarang. Dan tulisan di pojok bawah itu adalah b.a.r yang aku baru menyadarinya berarti Barney As Rafa.

Aku dan Rafa saling bertatapan penuh arti, seperti banyak yang akan dikatakan. Dan Rafa memulainya,

“Lo nggak usah ngomong apapun, gue tahu, karena gue sebagai pendengar setia lo. Gue seumuran sama lo, gue sebenernya udah lama sekolah di sini dan gue seneng lo studi banding disini. Lalu gue denger lo cerita kalo lo pingin punya temen sekelas, gue besoknya langsung pindah kelas biar gue bisa tau langsung keseharian lo. Setiap orang pasti punya hal yang berharga, bahkan paling berharga. Layaknya gold emas, andaikan gue sebagai pemilik, gue memilih untuk selalu jaga dan lindungin bahaya yang bisa aja datang kapanpun. Dan lo Sal, Goldiane gue.”

couple-on-rooftop

***

Semarang, Agustus 2018

Fahreza,
IX A, SMP 39 Semarang

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: