Cewek Ajaib

elevator1

Jam 17.25 WIB

Ryan mengemasi barang-barangnya yang masih berantakan diatas meja kerjanya. Dia menjadi orang terakhir dikantor. Lainnya sudah pulang sejak sepuluh menit yang lalu. Maklum weekend. Belum selesai berkemas, ponselnya berbunyi. “Ting.”

Tangan Ryan meraih ponsel yang tergeletak dimeja. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponselnya. Dari Danto, sahabat kuliahnya. “Kita tunggu jam delapan ditempat biasa.”

“Huft…” Ryan bergumam sendiri lalu meraih ponsel dan membalas pesan Danto. “Oke.”

***

Ryan mempercepat langkahnya setengah berlari. Karena dia harus buru-buru sampai rumah, mandi, makan, dan ganti baju agar bisa datang tepat waktu. Sampai dekat lift, dia melihat pintu lift hendak menutup. Spontan Ryan berteriak. “Woi, tunggu. Gue ikut!”

Pintu lift kembali terbuka dan Ryan berlari memasuki lift. Dengan buru-buru ia tarik tas kerjanya. Tetapi karena terlalu kencang, tanpa ia sadari tas kerja model selempang dari kulit miliknya mengayun dan mengenai pinggang seorang cewek yang berdiri tepat didepannya. “Bugh!”

“Aduh!” si cewek berteriak diiringi pandangan orang-orang dalam lift.

“Eh, sorry Sis. Gak sengaja. Sakit? Sorry ya. Buru-buru…” kata Ryan meminta maaf sambil mengatupkan kedua telapak tangannya sebagai tanda minta maaf.

“Makanya liat-liat kalo gerak. Udah tahu liftnya penuh!” sahut cewek itu dengan nada marah.

“Iya Sis. Sorry banget ya.”

“Enak aja. Sakit tau!” kata cewek itu lagi setengah membentak.

Ryan kaget dan memandangi wajah cewek berambut sebahu itu. Lalu melihat sekelilingnya. Rasanya ingin membalas bentakan tadi tapi dia tahan karena banyak orang. Gak etis juga debat sama cewek didepan banyak orang gini.

Dengan menahan diri, Ryan meminta maaf lagi. “Saya minta maaf Sis. Kan gak sengaja ini. Banyak saksinya kok…”

“Tau!”

What?! Ini cewek cap apa sih? batin Ryan kebingungan.

Ditengah kebingungannya, tiba-tiba lift berhenti “Tring…” dan pintu lift terbuka. LG 01. Parkiran mobil gedung perkantoran Golden Tower.

“Minggir!” kata cewek berambut sebahu itu sambil tangannya menyentuh lengan Ryan agar sedikit minggir karena dia mau lewat. Meskipun sempat bengong, Ryan masih bisa menghindar saat cewek itu tetap melangkahkan kakinya sehingga tidak tertabrak.

Pandangan Ryan mengikuti arah cewek itu pergi. Masih dengan muka bengong. Dua orang cowok yang masih berada di lift senyum-senyum sendiri melihat ekspresi Ryan.

Salah seorang dari mereka kemudian bicara. “Udah Bro. Tenang aja. Dia emang gitu anaknya.”

“Oya?” balas Ryan sambil bertanya. “Kalian berdua kenal?”

“Kenal. Dia temen satu kantor kita di perusahaan Sekuritas. Office kita satau lantai diatas office lo tadi. Floor 8 kan? KIta di floor 9. Elo yakin Bro gak kenal dia?”

“Enggak. Emang dia sia…”

Belum selesai kalimat itu keluar dari mulut Ryan, lift sudah berbunyi dan dua cowok tadi langsung keluar dari lift. Ryan buru-buru mencegatnya. “Sorry, boleh gue lanjutin pertanyaan gue tadi?”

“Oh, please. Gimana?”

“Emang cewek itu siapa?”

“Hahaha, penasaran ya? Ini kartu nama gue. Senin maen aja ke office. Entar gue tunjukin siapa cewek itu. Sorry Bro, kita buru-buru juga. See you on Monday…”

“Oke. Thank’s anyway.” Kartu nama itu Ryan lihat sebentar. Hendra Darmawan. Sejurus kemudian ia masukkan kartu nama tersebut kedalam dompet sambil berjalan menuju motor kesayangannya.

***

Honda-Rebel-250-CMX250-2

Ryan mengendarai motornya dengan perlahan menuju pintu parkir. Antrian cukup panjang. Terpaksa Ryan berhenti. Namun tiba-tiba… “Thiin, thiin!” Suara klakson mobil mengejutkan Ryan. Kepalanya menoleh ke belakang. Terkaget. Sebuah mobil Ignis putih sudah ada tepat dibelakangnya. Yang lebih bikin kaget ketika Ryan memperhatikan yang dibalik kemudi.

“Ya Allah. Cewek ajaib itu lagi. Gawat.” batin Ryan sambil segera menggerakkan motornya untuk minggir karena dia sadar posisinya agak menutup lajur keluar mobil.

Mobil bergerak maju. Tapi kemudian berhenti persis disebelah Ryan.

“Mati gue. Dia hapal muka gue.” kata Ryan dalam hati tapi pura-pura gak ngelihat. Matanya melihat ke arah antrian didepannya.

Kaca mobil perlahan turun dan seraut wajah “Eh, jangan pura-pura gak ngeliat ya! Heran gue. Lo lagi, lo lagi. Gak ada capeknya ya gangguin hidup orang?!”

Ryan cuma nengok sedikit dan menggerakkan tangannya mempersilahkan cewek ajaib ini melanjutkan perjalanannya. “Silahkan… Selamat jalan. Semoga selamat sampai tujuan…”

“Huh!” cewek “antik” itu bergegas menjalankan mobilnya menuju pintu keluar mobil.

Di belakang, Ryan menggeleng-gelengkan kepala sambil senyum-senyum sendiri.

***

billiard

The Dome Sport Center, 20.30 WIB

Hari Jumat malam adalah waktu hangout bagi keempat sahabat yang sudah bersama sejak mereka kuliah di jurusan Management disebuah STIE. Hobi yang sama, billirad, membuat mereka tetap bersama hingga masing-masing dari mereka telah bekerja.

Awalnya mereka bertemu dalam kompetisi kampus. Semenjak itu mereka justru sering main dan latihan bareng terutama jika ada kompetisi Nine Ball di kota mereka. Kini, setelah lulus kuliah dan bekerja, billiard menjadi kegiatan pelepas penat tiap akhir minggu. Sesekali ikutan kompetisi dadakan yang dilokasi mereka main billiard.

Danto, Irfan, dan Argo sudah tampak terlihat di meja 11. Ryan mendatangi ketiga sahabatnya.

“Halo Bro. Sorry nih agak telat.”

“Iya, tumben. Biasanya elo yang datang duluan.” kata Irfan menyambut Ryan. Argo yang sedang duduk segera berdiri dan ikut mendatangi Ryan sambil melakukan toss dengan kepalan tangan. Danto yang berada diujung meja hanya melambaikan tangan dan melanjutkan permainannya. Setelah melakukan shoot, Danto ikutan gabung.

“Kirain gak dateng lo. Baru aja mau gua chat.” kata Danto.

“Enggaklah bro. Gua pasti dateng. Tadi ada gangguan dikit. Ada cewek aneh dikantor. Cuma kesenggol tas aja, eh dia ngamuk-ngamuk gak jelas gitu.” cerita Ryan. “Udah ah, gua mau duduk bentar. Lo lanjut aja mainnya. Gua mau pesen minum dulu.”

“Oke.”

Suara musik yang cukup keras dimainkan menemani para penggemar billiard yang ada di Sport Center.

***

Satu jam lebih berlalu semenjak kedatangan Ryan. Orang lalu lalang. Semakin malam semakin ramai tempat ini. Di meja 11 kini berhadapan Ryan dengan Argo memainkan bola sepuluh (10 Ball).

Wajah Ryan agak tegang saat Argo melakukan called shot bola nomor 10 padahal bola masih tersisa 3 buah. Argo memang jago memainkan efek bola sehingga penempatan cue ballnya sering tepat. Namun tidak kali ini. Karena shootnya terlalu keras, sehingga cue ball justru menjadi sedikit terhalang oleh bola nomor 9.

Melihat situasi seperti ini, Ryan langsung berteriak “Yes!” dan langsung meraih stick yang dia sandarkan di tiang. Tapi sialnya, karena saking gembiranya, justru hanya ujung jari tangannya saja yang mengenai stick billiarnya dan membuat stick terjatuh ke arah jalan…

“Aduh!” Stick itu mengenai seseorang. Cewek. Ryan terkesiap. Cewek aneh tadi!

Ya Tuhan. Kenapa dia ada disini? serunya dalam hati.

“Oh My God! Elo lagi?! Gak ada tempat laen ya? Elo nguntit gue ya?!” cewek antik itu meracau gak karuan.

“Sorry, sorry. Gua gak sengaja…” Ryan meminta maaf sambil menunduk mencari stick billiarnya.

Teman-temannya Ryan saling berpandangan lalu mendekat. Bermaksud menjelaskan. Tapi belum sampai di tempat Ryan berdiri, cewek itu terlihat mau memanggil temen-temennya yang ada di meja 17. Dikiranya mau ngeroyok.

“Woi, guys! Ada yang mauu…pphh” Tangan Ryan tiba-tiba mendarat di mulut cewek aneh.

“Duuuh. Elo itu kenapa sih sebenernya?” tanya Ryan. “Gak ada yang mau ngapa ngapain elo.”

Cewek aneh memberontak, mengayunkan tangannya mencoba membebaskan mulutnya dari tangan Ryan. Ryan melepas tangannya sebelum tangannya beradu dengan lengan mungil itu.

Begitu terlepas, sontak cewek aneh itu berkata dengan nada tinggi. “Elo yang kenapa! Dari tadi sore bikin gara-gara melulu. Sebenernya mau lo apa? Hah?!”

“Oke… oke.. Gua salah. Gua akui itu. Tapi kan gak perlu teriak-teriak juga kan..? Apa gak bisa dibicarain? Kalau lo luka, gua mau nganter lo ke rumah sakit. Gimana?”

“Hhhh!”

Cewek aneh hanya menggeram dan berlalu. Menuju ke meja 17 dimana temen-temennya berkumpul. Tak lama kemudian mereka terlihat berbicara serius sambil sesekali melihat ke arah Ryan.

Ryan dan temen-temennya berinisiatif mendatangi meja 17 bermaksud menjelaskan agar tidak terjadi salah paham. Untuk menetralisir keadaan, mereka acungkan dua jari sebagai tanda damai.

Sesampainya di meja 17, seorang cowok mendekat.

“Lhoh, elo bro?” sapa Hendra. Cowok yang tadi satu lift dengannya.

“Iya bro. Sorry nih. Gua tadi gak sengaja jatuhin stick terus kena temen elo.” jelas Ryan.

Hendra melihat kearah cewek aneh itu sambil berucap, “Bener Kat? Lo kejatuhan sticknya dia?”

“Kok elo jadi belain dia? Mau kejatuhan atau dijatuhin kan gue gak tau! Yang pasti ada stick billiar ngenain badan gue,” jawab Katrina.

“Ya Allah. Beneran. Tadi itu gak sengaja. Gua kesenengan aja tadi. Pas mau ambil stick tapi malah jadinya nyenggol. Makanya tatuh. Gua gak tau kalau elo lewat situ.” jelas Ryan.

Katrina memegang tangan Hendra lalu mengajaknya menjauh kearah dalam. Mereka berbisik-bisik dan tak lama kemudian kembali.

Hendra membuka pembicaraan. “Jadi gini bro. Katrin minta ini diselesaikan di meja billiar. Lo berani?”

Ryan memandangi wajah ketiga sahabatnya. Ketiganya menganggukkan kepala tanda setuju. “Oke. Aturannya gimana?”

“Kalau elo menang, elo bebas. Tapi kalau elo kalah, elo musti ikutin apa saja keinginan Katrina?”

“Apa aja? Maksudnya? Kalau dia mau bunuh gua gimana? Ogah kalau gitu.”

Katrina langsung sewot. “Cemen lo. Bilang aja gak berani.”

“Eh, ini bukan masalah cemen atau apa. Gua kan gak tau siapa elo. Bisa aja elo psycho. Terus gua entar elo mutilasi gimana?”

Hendra ketawa… “Gak lah bro. Gua jamin Katrin gak seperti yang elo bayangin. Tenang aja…”

“Oke.” Ryan mengambil nafas lalu menengok kekiri, berkata ke Argo. “Elo jadi saksi ya. Kalau ada apa-apa sama gua, elo selametin gua pokoknya.”

“Beres.” jawab Argo. Senyuman kecil tersungging dibibirnya.

***

Bertamu-ke-Cimory-Riverside-Cimory-Resto-Riverside-600x310

Malam berikutnya, di Restoran Kayu Manis

Ryan duduk sendiri disudut restoran. Pandangannya mengarah ke sungai dibawah restoran. Memandangi bebatuan dan air sungai yang dihiasi lampu LED warna warni. Menunggu seseorang.

Akibat kekalahannya kemarin, kini Ryan harus mengikuti keinginan Katrina. Dia ingin ditemani makan malam Sabtu malam ini. Permintaan yang aneh… Seaneh orangnya.

Ryan menyeruput pelan teh panas didepannya. Mengusir hawa dingin yang dibawa angin malam.

Suara langkah kaki terdengar. Ryan mengarahkan pandangannya ke pemilik suara langkah itu.

Katrina. Dia sudah datang. Mengenakan baju lengan panjang warna pink digulung dan celana panjang putih dengan ikat pinggang hitam model tali. Seuntai kalung nampak tergantung diantara kerah bajunya.

“Hmmm… Cantik juga anak ini,” Ryan berkata lirih pada dirinya sendiri.

Ryan berdiri dan menyapa. “Hai.”

“Hai juga. Gak lama kan?” balas Katrina.

“Enggak. Tapi sorry. Gua pesen teh panas duluan. Dingin…”

It’s oke.” Katrina duduk dan meletakkan tasnya di kursi satunya.Mereka kini duduk berhadap-hadapan. “Thank’s ya. Lo udah nepatin janji buat dateng malem ini. Nemenin gue malem mingguan.”

“Heuheu, no problem. Lagian malam minggu juga biasanya gua ngabur. Gak masalah kalau absen sehari. Besok masih bisa sunmori.” Kok beda ya dengan kemarin. Hari ini ia beda banget sama yang kemarin…  “Lagian malem mingguan dengan cewek secantik kamu gak ada ruginya juga…”

“Eh, jangan nge-gombal ya. Gue udah baik-baikin nih. Atau elo mau hukuman yang lebih?”

Waduh, balik lagi angotnya. “Oke, oke. Sorry…” sahut Ryan. “Hukumannya ini aja deh.”

Seorang waitress datang menghampiri dan memberikan buku menu. Setelah memilah-milah sebentar dan melakukan order, Katrina melanjutkan pembicaraan.

“Oya, emang kalau malem minggu ngabur kemana? Rumah pacar?”

“Oh enggak. Gua jomblo. Gua biasanya ngabur sama anak-anak ke pantai atau pegunungan. Touring. Kalau nggak ya nongkrong aja di depan mall. Kalau elo gimana? Biasanya malem minggu kemana?”

“Lo gak punya hak buat nanya soal itu.”

“Hah? Oke, oke… Kalau nomer hape boleh?”

Katrina tertawa kecil… lalu pasang tampang judes lagi. “Boleh. Tapi entar ya. Setelah lo jalani hukuman lo.”

“Yaaah…”

Anyway, thank’s juga karena udah ngalah kemarin malam.”

Ryan kaget. Kok dia tahu?

“Jangan dikira aku gak tahu ya. Begitu juga dengan Hendra. Lo pikir cuma elo sama temen-temen lo yang tahu?”

“Hahaha… Kelihatan banget ya?” Ryan berkata lantas menundukkan kepala sambil geleng-geleng.

“Ya iyalah. Emang kenapa? Elo gak takut apa yang elo pikirin kejadian? Let say gue psycho beneran.”

“Enggak. Itu bercanda aja. Gua cuma pengen tahu elo aja.” Ryan mendongakkan kepalanya… dan… pandangan mereka beradu. Sepersekian detik mereka berdua terpaku…

Begitu tersadar, mereka langsung memalingkan muka.

Untunglah, berbarengan dengan kejadian itu, makanan yang dipesan oleh mereka berdua datang. Mereka melanjutkan obrolan disela-sela kesibukan makan dan minum.

Eating Pasta Salad

“Oh ya, besok sunmori dimana?” tanya Katrin di penghujung pertemuan.

“Ehm, kalau gak diganti, besok start dari taman Diponegoro. Jam 6. Elo mau ikut?”

“Let see. Tapi gak janji ya.” jawab Katrina dibarengi senyum kecil.

“Gua jemput deh.” Ryan ngarep.

“Modus ya?Liat aja entar. Gue duluan ya.”

“Oke. Take care…”

Katrina membalikkan badan. Namun ketika hendak melangkah, Ryan menyentuh lengannya.

“Ada apa?” tanya Katrina.

Sorry Kat. Nomer hape lo gimana. Katanya tadi…”

“Kan gue bilang nanti setelah hukuman elo selesai.”

“Hah? Ini kan udah.”

“Siapa bilang? Elo tunggu aja sebentar. Oke..? See you…”

Katrina melangkahkan kakinya meninggalkan Ryan yang terbengong-bengong. Sesaat setelah Katrina keluar dari pintu, muncul sosok cowok yang familiar di mata Ryan. Hendra.

Melihat kedatangan Hendra, Ryan membatin. “Apalagi ini Ya Allah…”

Begitu sampai meja, Hendra langsung menarik kursi dan duduk di depan Ryan. Menegakkan badan dan berkata: “Thank’s bro, udah mau nemenin adik gua.”

“Dia.., eh Katrin adik lo?”

“Iya. Kenapa gak mirip ya?” tanya Hendra.

“Ya… Mi..rip sih, tapi gak nyangka aja. Kirain gua kalian pacar atau temen deket gitu.”

No. She is my little sister.”

“Oke… Jadi hukuman gua selanjutnya apa nih?”

Hendra tertawa keras. “Hahahaa..” Ryan tambah bengong. “Udah bro, jangan dengerin Katrin lagi…”

“Terus, maksud lo dateng kesini apa? Mau mukulin gua kan?”

“Enggaklah… Relax dulu.. Calm down bro… Kita ngopi aja ya? Bentar aja.”

Meski kebingungan, Ryan menyetujui ajakan Hendra.

coffee-time

“Gini Bro, sebenernya Katrin itu suka ama lo sejak lama. Kira-kira sebulan yang lalu…”

Ryan yang sedang asyik menyeruput kopi tersedak. Lalu buru-buru cari tisu untuk bersihin meja.

“Yang bener lo. Mana mungkin? Kemarin aja sewot melulu ke gua.”

“Dia emang gitu anaknya bro… Tapi dia baik kok. Gua hapal sama tingkahnya yang gak jelas itu… Boleh gua terusin ceritanya?”

“Oke, terusin aja.” Ryan masih sibuk bersihin meja.

“Dia ngeliat lo waktu main billiar di The Dome. Waktu itu elo menang kompetisi ala-ala The Dome. Kayaknya naksirnya semenjak itu. Karena habis itu dia ngebet pengen tahu banget soal elo.”

“Terus?”

“Gua bilang kalau gua tahu elo. Gua bilang kalau elo kerja di tempat yang sama dengan gua. Kita kadang ketemu di warung nasi Padang sebelah gedung pas makan siang.  Nah, abis itu dia maksa buat kerja disitu juga. Kebetulan karena perusahaan sekuritas itu milik Om sendiri, dia dibolehin kerja disitu…”

“Heuheu.. Aneh juga ya.. Gak nyangka…” gumam Ryan.

“Semenjak kerja disana, dia coba mencari perhatian elo bro. Tapi gak pernah lo gubris. Itu yang bikin dia sewot terus bawaannya. Dia itu sering banget lewat depan kamu tapi elonya cuek aja. Dia juga pernah barengan makan siang ama elo. Punggung-punggungan malah. Tapi dasar elonya cuek, jadi ya gitu deh.”

Ryan mengikuti cerita Hendra sambil manggut-manggut.

“Makanya momen di lift kemarin dia pakai buat ngerjain elo sekarang…”

“Hehehe… Kurang ajar juga adik lo itu. Tapi gak pa-pa. No problem…”

“So?”

“So? What?” Ryan balik nanya.

“Sialan lo. Kan gua udah cerita, adik gua suka ama elo. Itu gimana? Lo mau gak jadi cowoknya?”

“Oh, itu? Bentar… Wait a minute.”

“Oke…”

Sepuluh detik berlalu. Hendra dengan muka serius menunggu keputusan Ryan hingga Ryan membuka mulutnya. “Gua pengen ngomong langsung ke Katrin. Give me her number.”

Hendra mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Katrin. Begitu balasan dari Katrin datang, Hendra memberikan nomer telepon Katrin. Ryan langsung menelepon nomor yang diberikan Hendra.

“Maaf, nomor yang Anda hubungi tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan.”

“Kok nomernya gak aktif bro? Nomornya bener kan?” tanya Ryan dengan ekspresi muka bertanya-tanya.

Hendra tertawa keras melihat ekspresi Ryan.

Ryan yang tadinya bingung, mukanya memerah karena menahan marah. Tapi belum sempat dia mengucapkan kata-kata makian ke Hendra, notifikasi terdengar di ponselnya. “Ting.”

Nomor asing. Sebuah pesan tertera di layar. Isinya alamat rumah dan kalimat singkat.

“Gue tunggu besok jam setengah 6 pagi.”

Ryan bengong lagi…

 

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: